Serba-Serbi MakeUp Artist (a.k.a Tukang Rias) :)
Makeup...I love makeup dan segala pernak perniknya. Ada pepatah yang mengatakan: pekerjaan paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar. Ya itu benar sekali. Sangat menyenangkan saat karya kita bisa disukai dan membuat bahagia orang banyak. Ada juga yang bilang: enak ya jadi makeup artist (karena kita rakyat Indonesia, maka mari gunakan bahasa Indonesia. bahasa merakyatnya: tukang makeup). Kerja bentar cuma poles-poles doang, dibayar gede. Hehehehehe. Tapi tahukah kamu...bahwa kondisi tiap daerah itu berbeda? Niii saya ceritain dari sudut pandang saya yaaa
1. Jadi tukang makeup itu, harus siap kurang tidur. Bangun jam 2 subuh udah mesti siap dilakonin. Liat anak suami jam segitu lagi enak-enaknya tidur dibalik selimut, kita harus melek, mandi, berangkat. Brrrrrr......
2. Kalau dalam satu hari itu ada banyak pekerjaan rias yang harus dilakoni, siap-siap bawa stop watch di otak sndiri dan menargetkan diri sndiri per job harus slesai jam brapa. Namun hasil makeup harus tetap bagus. Ga lucu kan kalau acara terpenting seseorang jadi berantakan hanya karena kitanya terlambat? Plus...harus siap-siap pinggang sampai berasa mati rasa karena harus ada dalam posisi menekuk. Lumayaaaaan....
3. Untuk daerah ditempat saya, yang masih menjadi favorite masyarakat sini adalah pesta pernikahan dirumah, dari subuh sampai malam. Kalu sudah begitu, siap-siap saja kita pulang malam karena harus berkali-kali retouch dan ganti baju pengantin. Belum lagi medan tempuh yang terkadang sulit dilalui, barang bawaan yang banyak. Kita mesti punya mental baja dan nyali gede (karena jalan subuh menembus area yang sepiiii) - ya namanya juga subuh banget yaaaa.
4. Jadi tukang makeup itu harus bisa mengatasi suasana hati dan mood diri sendiri. Ada kalanya kita lagi ada dalam kondisi hati marah, kesal atau sedih. Itu smua ga boleh diperlihatkan ke pengantin. Kita harus tetap jadi ibu peri baik hati, selalu tersenyum dan bisa memberi kekuatan kepada para pengantin. Daaan...kita harus tetap menghasilkan karya rias yang sempurna. Padahal, makeup sama dengan seni, seperti melukis. Kalau mood kita sedang naik turun, rasanya mau pulang aja kerumah dan minum coklat panas sambil bergelung didalam selimut dingin (mulai lebaaaaay ahahahaha).
5. Suka sedih kalau ada yang nanya begini: "harga riasnya berapa?" Dan saat kita sudah kasih harga, dengan entengnya dia bilang begini "ahhh mahal banget. Di si A dan B itu cuma segini bla bla bla...nanti ada temen saya dan sodara saya juga mau nikah loh. Nanti kan itung-itung promosi. bla bla bla...". Yang harus saya tekankan disini, jasa itu tidak bisa diukur mahal atau murah. Alat kosmetik saya dengan si A dan B itu pasti ngga sama, hasil rias juga ngga sama. Dan kalau soal promosi, yaaa kalau smua minta minim dengan janji kita akan dipromosikan, lalu kita dapat keuntungan dari manaa??? Ga munafik kan selain karena hobi, kita juga perlu uang. Ya kan ya kaaan???
6. Untuk di daerah sini, masyarakat senang dengan perias yang punya semua kebutuhan wedding. Jadi seperti one stop wedding service. Kebayang ngga saat kita harus ngurusin semuaaa keperluan pengantin itu? Busana pengantinnya, busana ayah ibu, busana keluarga, preweddingnya, dekorasinya, susunan acaranya, pemusiknya, sampai ke masalah tenda-tendanya dan kursi plus piring makannya (kalau acaranya di rumah). Mirip wedding organizer yaaa...
7. Tukang rias jugaaa harus selalu belajar, cari info trend-trend rias terbaru, trend busana terbaru, trend kerudung dan sanggul terbaru. HArus rajin nimba ilmu dari master-master yang ada. Ga boleh cepet puas sama hasil diri sendiri deh.
8. Harus siap hadapin emosi pengantin dan keluarganya yang ga stabil. Ya kita harus maklum namanya juga ini acara terpenting dalam hidup mereka. Mereka pasti mau yang terbaik. Jadi harus siap diajak konsultasi, bahkan sampai tengah malam (meski hanya lewat WA). Ada kalanya juga nampung emosi dan kesedihan mereka, dan siap-siap hadapin kepanikan mereka di hari H.
Jadi intinya jadi tukang rias itu memang menyenangkan karena sesuai dengan hobi. Yaaaaa suka dukanya banyak. Tapi semua profesi kalau dijalani dengan hati, niscaya proses tidak akan mengkhianati hasil.
Last point: Do i love makeup?? Yes for sure.
Comments
Post a Comment